May
15Siang itu dalam kereta tujuan Freiburg*.
Di dalam gerbong kereta, anak laki-laki 3 tahun itu tampak begitu resah, tak sabar, ingin segera sampai di tujuan. Sesekali melirik ibunya di samping, yang tampaknya sadar kegelisahan si kecil. Berkali-kali pertanyaan kapan tiba di tujuan selalu ditanyakan.
“Mama, mama bawa biskuit gak?” Sang Mama mengangguk singkat.
“Biskuit yang mana Mama?” desaknya lagi
“Yang ada coklat dan kacangnya”.
“Nanti yah…sekalian kalau sudah sampai. Sebentar lagi kok” tambah sang Mama. Si kecil mengangguk.
“Mama?” kata anak itu kembali.
“Yah?” kali ini ada sedikit nada tidak sabar dalam suaranya.
“Mam, ich habe dich sehr lieb! (aku sangat mencintaimu Mama!)” senyumnya mengembang. Ibunya tersenyum mengangguk. Read the rest of this entry »